Kamis, 18 Mei 2017

PERLAWANAN TERHADAP RADIKALISME



PERLAWANAN TERHADAP RADIKALISME
            Sejarah mencatat dan memastian bahwa Indonesia bukan negara agama. Perdebatan tentang negara agama telah berakhir pada tahun 1945, sebelum proklamasi kemerdekaan. Hal itu bisa dibaca dalam risalah sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
            Saat mendirikan negara ini, para founding fathers tak mewakili agama tertentu. Mereka hanya berpikir dan berjuang bagaimana agar Indonesia yang telah ratusan tahun terjajah, menjadi bangsa yang merdeka. Itu sebabnya, para pahlawan nasional tidak berasal dari satu agama atau etnis saja. Mereka sangat beragam, baik yang disemaymkan di Taman Makam Pahlawan, maupun para pahlawan tak dikenal. Fakta tak terbantahkan, Indonesia sangat beragam, baik dari sisi agama, maupun suku, dan golongan. Tak ada terminologi mayoritas dan minoritas, seolah ada pihak tertentu paling berhak memiliki dan menentukan bangsa ini. Seolah yang lain hanya pelengkap dalam berbagai dinamika negara ini.
            Kita bukan indekos di negara ini. Ini penegasan, semua merupakan anak sah bangsa yang besar ini, tanpa memandang latar belakang agama dan suku. Baik Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha atau Konghuchu. Begitu juga Jawa, Batak, Melayu, Minang, Sunda dan lain-lain. Patut disayangkan, masih ada yang mengimpikan berdirinya negara agama di Indonesia. Ini bukan hal baru, sejak awal kemerdekaan hingga masa Soekarno, bukan hanya lagi pada tataran ide. Bahkan, mereka sudah melakukan pemberontakan bersenjata, seperti DI/TII dan lain sebagainya. Pengikut paham ini masih ada yang tersisa dan terus berkembang, akibat pengaruh paham yang sama di negara lain.
            Penganut radikalisme agama ini memainkan isu SARA dalam berbagai kesempatan. Pilkada yang rawan karena adanya polarisasi, selalu menjadi sasaran. Banyak warga dan tokoh terpengaruh untuk menggunakannya, baik yang sadar maupun tak sadar, hal itu akan merusak persatuan dan kesatuan bangsa, cepat atau lambat.
            Negara tak boleh kalah terhadap radikalisasi. Presiden Soekarno saja pada masanya berani bertindak terhadap paham yang ingin mendirikan negara agama dan mengganti Pancasila. Untuk itu, kita mendukung Presiden Jokowi untuk mengambil langkah tegas dan tanpa ragu terhadap semua organisasi massa yang memiliki paham radikalisme. Bahkan langkah pemerintah untuk membubarkannya sudah tepat.
            Diharapkan organisasi lain yang memang terbukti memiliki paham yang sama segera dilarang. Tentu saja bukan lagi dengan cara refresif, tetapi dengan langkah hukum. Lakukan pembubaran melalui pengadilan, meski ada yang menganggapnya sebagai pelanggaran kebebasan berserikat.Sebab radikalisme bukan lagi hanya wacana. Lihatlah laporan tentang berkembangnya paham ini di kampus, bahkan di sekolah. Jadi semua pihak yang cinta Pancasila dan NKRI mesti merapatkan barisan mendukung tindakan tegas terhadap upaya mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa. Lawan dan basmi radikalisme dari bumi Indonesia.

Kamis, 11 Mei 2017

Belajar Dari Einstein



BELAJAR DARI EINSTEIN
Abert Einstein adalah seorang ilmuwan yang dikenal sebagai ilmuwan terhebat abad 21. Ia dikenal sebagai seorang yang eksentrik dan kontroversial. Ia merupakan pria yang jenius yang memiliki kecerdasan intelektual atau IQ sebesar 160. Ia berpendapat bahwa kecerdasan bukanlah hal yang membuat meraih kesuksesan namun cara berpikir lah yang membuat bisa mencapai kesuksesan. Kita harus bisa berpikir dengan cara berbeda dari orang lain untuk mencapai banyak hal. Berikut adalah pemikir an Einstein
1.      “Bukannya aku sangat cerdas, hanya saja aku tetap pada permasalahan lebih lama.”

Kesuksesan memang ada di depan kita. Seringkali orang berhenti di saat halangan bergejolak. Pada hal kesuksesan itu dekat sekali. Inilah yang membuat besar peluang orang menjadi gagal. Orang yang sukses adalah orang yang tahan dan berani untuk gagal berkali-kali, mereka tidak pernah berhenti sebelum meraih tujuan mereka.

2.      “Aku tidak punya bakat khusus. Aku hanya orang yang selalu penasaran.”

Ini adalah rahasia besar yang dimiliki oleh orang-orang besar, rasa ingin tahu. Sadar atau gak, rasa keingin tahuanlah yang membuat hal-hal luar biasa berhasil diciptakan. Jadi  jika ingin  sukses maka peliharalah rasa ingin tahu yang kamu miliki, kemudian gali rasa ingin tahu tersebut dengan belajar dan terus belajar.

3.      “Imajinasi adalah segalanya.”

Hal ini bukanlah mengajarkan seseorang untuk menjadi pengkhayal, namun kamu butuh menjadi seorang pengkhayal dan pemimpi besar untuk menemukan sesuatu yang baru. Einstein dan banyak orang besar lainnya tidak akan menjadi orang yang seperti kita kenal saat ini jika mereka tidak berani berimajinasi. Jangan takut untuk berimajinasi, jangan takut dengan anggapan orang lain yang mematahkan semangatmu.

4.      “Informasi bukan pengetahuan. Satu-satunya sumber pengetahuan adalah pengalaman.”

Pengalaman adalah guru terbaik. Nah, dengan membaca begitu banyak teori dalam buku bukanlah cara terbaik untuk menjadi ahli, kita harus mempraktekannya. Karena dengan begitu kamu dapat memiliki banyak pengalaman yang tak akan ternilai harganya. Membaca mungkin akan menjadikanmu lebih tahu, namun mencoba dan mempraktekan akan membuatmu memahaminya.

5.      “Orang yang tidak pernah membuat kesalahan tidak pernah belajar hal baru.”

Gak ada di dunia ini manusia yang tak luput dari kesalahan atau tidak pernah gagal. Namun sebaik-sebaiknya mereka adalah yang mau belajar dalam setiap kesalahan dan kegagalan. Begitulah orang besar memahami dan memaknai setiap hal yang mereka lakukan dalam hidup. Jadi jangan takut gagal dan salah. Hidup adalah pembelajaran dari kesalahan dan kegagalan yang kita lakukan di masa lalu.